Menelisik Bali Dengan Kacamata Yang Berbeda
Penulis
layouter
desainer_cover
penerbit
alamat_penerbit
tebal_buku
edisi
tahun_terbit
Judul Buku : Bali Punya Nilai
Pengarang : I Wayan Bagus Perana Sanjaya
Penerbit : Madyapadma Journalistic Park SMA Negeri 3 Denpasar
Tebal : 69 Halaman
Tahun Terbit : 2017
Edisi : Ke-1
Bali Punya Nilai merupakan sebuah buku yang mengangkat perspektif mengenai Bali yang diulas berdasarkan pandangan sang penulis. Namun, Bali yang dibahas di buku ini bukanlah sekedar Bali saja, tetapi Bali yang mempunyai nilai yang sesungguhnya. Nilai-nilai yang mungkin sebagian orang belum memahaminya. Buku ini juga membahas mengenai pandangan penulis akan kondisi pers di Bali, dimana pers di Bali dianggap sebagai kompor yang membawa berita tidak sesuai faktanya. Isu-isu sosial yang terjadi di Bali juga dibahas di buku ini seperti Tolak Reklamasi dan keadaan pantai di Bali yang kini terkena abrasi dan dijadikan daerah pembangunan. Tak hanya itu, penulis juga mempertanyakan akan kondisi pendidikan di Indonesia yang menerapkan sistem full day school dan kasus labelling yang terjadi pada para pelajar.
Buku ‘Bali Punya Nilai’ adalah sebuah buku yang mengungkapkan kekhawatiran penulis akan beberapa hal dengan mengangkat perspektif Bali. Buku ini memang membahas mengenai Bali itu sendiri, namun sebagian besarnya penulis membahas mengenai pers dan beberapa hal lainnya yang sedikit ‘meresahkan’ penulis. Dalam artikel pembukanya yang berjudul ‘Bali Punya Nilai’, penulis menyoroti beberapa kegiatan masyarakat Bali seperti adanya hari raya khusus dimana buku-buku ‘dibanteni’, namun tidak dipelajari. Setiap jengkal di tanah bali yang dipercayai sakral, namun sampah tetap dibuang sembarangan. Canang dan bunga-bunga yang berserakan di pura, namun jarang ada tangan yang ingin mengambilnya. Penulis menggaris bawahi bahwa banyak yang belajar mengenai cara untuk menjalankan upacara yang ada di Bali, namun sedikit yang mempelajari nilai yang ada di dalamnya sehingga seringkali cara hidup kita bertolak belakang dengan konsep upacara yang ada.
Dalam artikel lainnya, penulis juga memberikan pandangannya mengenai kondisi pers di Bali yang dianggap sebagai kompor karena hanya menjadi provokator dengan mendatangkan berita yang tidak sesuai fakta. Pers yang seharusnya menjadi cahaya dan membuka peluang ekonomi kreatif kini kian melupakan tujuan utamanya dan kerap bersembunyi di selimut kapitalisme. Penulis juga menyoroti mengenai kondisi pendidikan di Indonesia. Dalam artikel terakhirnya yang berjudul ‘Labelling : Menjadi Positif’, penulis mengungkapkan pandangannya akan kasus labelling yang kerap terjadi dalam lingkungan pendidikan di Indonesia. Labelling yang memiliki kekuatan akan kata-katanya, memiliki nilai dan bahkan mempengaruhi psikologis seseorang, sehingga dalam dunia pendidikan pun, seorang guru harus bisa menjadi cerminan bagi siswanya dengan memberikan nilai-nilai yang positif. Nilai yang mungkin sebagian orang belum mengilhaminya. “Karena Bali punya nilai, sesungguhnya.”
Secara umum, buku ini memang dilengkapi dengan 18 artikel pendek yang membahas persoalannya masing-masing, namun buku ini mampu memberikan keterkaitan antar bab yang sangat erat dan menyajikan beberapa gambar ilustrasi. Terlebih sang penulis yang merupakan remaja asli Bali, membuat buku ini membawa ciri khas orang Bali. Selaras dengan isinya, cover dalam buku ini cukup menarik pembacanya untuk menelisik lebih dalam mengenai perspektif penulis. Pemilihan gambar serta warna sampul memberikan kesan artistik dan kesan tersembunyi sehingga mampu menggambarkan keseluruhan isi dari buku ini.
Dalam artikel “Bali Punya Nilai” dan beberapa artikel terkait, penulis menyoroti keberadaan nilai dalam budaya Bali yang mungkin sebagian orang belum memahaminya. Penulis mengkritisi tindakan orang Bali yang tidak sesuai dengan konsepnya seperti masyarakat yang masih membuang sampah sembarangan, namun mereka mempercayai bahwa setiap jengkal di tanah Bali sangat disakralkan. “Banyak yang belajar bagaimana cara untuk menjalankan upacara-upacara ini, tapi sedikit yang belajar nilai di dalamnya. Sehingga seringkali cara kita hidup bertolak belakang dengan konsep upacara yang ada (halaman 4)”.
Sesempurna apapun penulis mengemas sebuah buku, tentu saja buku tersebut masih memiliki beberapa kekurangan. Begitu pula dengan buku ini, salah satu kekurangannya berada pada isinya, dimana terdapat beberapa kesalahan tipografi dan kata tidak baku, contohnya pada halaman 55 yang diketik ‘kreatifitas’ seharusnya diketik menjadi ‘kreativitas’. Namun, seluruh kekurangan ini dapat ditutupi dengan maksud yang ingin disampaikan sang penulis. Segala pandangan penulis yang diungkapkan di buku ini seakan menyadarkan pembaca untuk tetap memahami dan berpegangan pada nilai-nilai yang akan membentuk diri kita sebenarnya. “Seperti perkataan Mahatma Gandhi: “Seorang manusia hanyalah produk dari pikirannya. Apa yang ia pikir, jadilah ia. (halaman 81)”. (Putu Masayu Cahyaning L.)