Manisan Gula Merah Setengah Gigit
Kadek Desi Nurani
Penulis
.
layouter
.
desainer_cover
Mahima Institute Indonesia
penerbit
Jalan Pantai Indah III Nomor 46, Singaraja, Bali
alamat_penerbit
95
tebal_buku
1
edisi
2020
tahun_terbit
Resensi
Kalau kita makan manis-manisan, tidak hanya gula yang terasa. Ada pun sesuatu yang pahit tertelan. Tidak langsung terasa, tetapi perlahan tinggal di lidah. Perasaan itulah yang tersisa setelah membaca Manisan Gula Merah Setengah Gigit, kumpulan cerpen karya Kadek Desi Nurani. Buku ini mengungkapkan luka, diam, dan ketabahan yang dialami oleh para srikandi, yang berujung sering dianggap sebagai kewajaran.
Dalam 9 (sembilan) cerpen yang disajikan, perempuan tidak diposisikan sebagai tokoh yang minta diselamatkan. Mereka yang mencoba bertahan, melindungi diri mereka sendiri. Dari sinilah lika-liku menjadi perempuan diceritakan.
Pada cerpen yang berjudul “Avandari”, menuturkan suara seorang ibu terdengar lirih. “Tidak semua pasangan mampu melakukan tugasnya dengan baik….”
Kalimat itu adalah bentuk perlawanan sunyi, dari sang ibu yang membesarkan anaknya seorang diri. Menanggung stigma, gosip, dan prasangka orang-orang. Dalam cerpen ini, perempuan digambarkan sebagai sosok yang kuat, namun kekuatan itu lahir dari keadaan memaksa. Menjadikan cerpen ini diam-diam menyindir masyarakat yang memuja pernikahan sebagai tujuan hidup, tanpa pernah serius membicarakan tanggung jawab di dalamnya.
Masuk ke cerpen yang berjudul “Menghayati Benih”, pembaca diajak menyelami konflik yang sangat dekat dengan realitas Bali. Tubuh perempuan dijadikan "medan tafsir" adat dan agama. Tokoh yang bernama Sekar Arum dianggap “mandul”, lalu dipaksa menanggung beban spiritual yang bukan sepenuhnya miliknya.
Hal ini dapat dilihat dari dialog, “Hei kau berdoalah dan memohon maaf pada leluhur kami…”
Setelah membaca halaman-halaman cerita pendek dari Manisan Gula Merah Setengah Gigit, terasa ada kekaburan antara agama dan adat. 2 (hal) yang sering dianggap satu kesatuan di Bali. Ketika perempuan tidak mampu “memberi keturunan”, adat hadir bukan sebagai pelindung, tetapi sebagai alat legitimasi kekerasan simbolik. Dalam cerpen yang menceritakan Sekar Arum, ia dipanggil "Bekung" yang kerap disandingkan sebagai pembawa sial. Sekar Arum memilih diam. Namun, ironisnya diam digambarkan sebagai bentuk kebajikannya menanggapi lontaran terhadap dirinya.
Karena kerap pula tokoh-tokoh perempuan memaafkan dan menahan diri, bukan dari keinginan sendiri, tetapi karena dunia tidak memberi mereka pilihan lain.
Kemudian cerpen “Waris Bapak” kembali mengulang pola itu lewat sosok Mbok Rus. Ia dikhianati berkali-kali, namun tetap tinggal bersama keluarganya. Narasi memujinya sebagai perempuan tabah, bahkan nyaris suci. Padahal, di balik ketabahannya, ada struktur sosial yang membuat kepergiannya lebih “tidak pantas” dibanding pengkhianatan suaminya.
Secara tulisan, Desi Nurani piawai meramu dialog-dialog pendek yang terasa seperti percakapan sehari-hari, dengan sarat-sarat makna di setiap kata. Namun, di beberapa cerpen, simbol terasa terlalu rapat dan implisit sehingga pembaca perlu mengulang untuk benar-benar masuk ke dunia ceritanya.
Kelemahan lain yang ditemukan setelah diresapi adalah kecenderungan pengulangan tema tanpa cukup eksplorasi alternatif. Hampir semua perempuan digambarkan kuat dengan cara yang sama: bertahan, diam, memaafkan. Buku ini belum memberi ruang bagi perempuan yang memilih marah dan pergi, atau melawan secara terbuka. Namun dari pembawaan cerpen-cerpen yang ada dalam buku ini pula, mampu menghantarkan pembaca pada pertanyaan: sampai kapan ketegaran perempuan dijadikan pembenaran untuk membiarkan ketidakadilan terus berlangsung? (sin)