Foto Penulis

Ni Putu Sasti Wulandari

Penjaga Rahasia

Karya

Thailand Series 2, Aku dan Malaikat, Riset Madyapadma 2020, Hari Ini Masih Ngebully? Nggak Jaman!

Bio Penulis

Kadang ada untaian kata yang tak mampu terucap. Hanya melompat-lompat saja di benak. Ditahan, dipendam, dikunci di hati. Berulang kali. Tapi bagi Sasti, puisi menjadi peri penjaga rahasianya. “Sebenarnya di sana aku bercerita sesuatu yang nggak aku ceritakan ke orang-orang,” ungkapnya.

 

Ketika orang-orang bersedih, mereka bereaksi macam-macam. Ada yang menangis di kamar mandi saat hidup lagi sulit. Atau ada yang mengurung diri sepanjang hari karena patah hati. Ni Putu Sasti Wulandari juga pernah bersedih. Lalu mengambil pena dan secarik kertas, dan mulai menulis puisi. “Di hidupmu kamu memang pemeran utama, tapi di hidup orang lain kamu bukan apa-apa. Aku percaya sama kalimat itu. Dan mulai sejak itu, aku jadiin tulisanku sebagai tempat untuk menuangkan segala beban dan masalahku,” aku gadis berzodiak Sagitarius ini kala dihubungi tim Madyapadma pada Senin (14/12).

 

Sasti, sapaan akrabnya, memang gemar menulis sedari kecil. “Semuanya itu berawal dari aku kecil, aku pecinta majalah Bobo dan novel KKPK (Kecil-Kecil Punya Karya). Terus waktu itu aku pingin ngirim ceritaku, tapi aku kesulitan karena belum bisa buat cerita yang panjang," kenang gadis kelahiran Denpasar, 4 Desember 2002 ini.

 

Saking dekatnya dengan dunia buku, Sasti tak sadar membuat dirinya terbiasa berkeluh kesah dalam tulisan. Ampuh jadi pelipur lara. “Setelah nulis, lebih enteng sih jadinya,” ucap si sulung dari tiga bersaudara ini.

 

Siapa yang menyangka, dari kebiasaan itu membawanya sampai menerbitkan sebuah buku kumpulan puisi bertajuk Aku dan Malaikat. "Isinya itu kumpulan puisiku selama 2,5 tahun. Setiap judul puisinya pun mengambil topik yang berbeda mulai dari keluarga, polemik di masyarakat, teman, dan ada juga beberapa puisi yang menggambarkan aku saat sedang patah hati," jelas gadis bertubuh jangkung ini.

 

Walau berasal dari cerita hidupnya, bukan berarti Sasti membuatnya dengan semudah membalikkan telapak tangan. Selalu ada tantangan yang membuat perjuangannya lebih bermakna. "Untuk nulis puisinya itu aku agak kesusahan waktu pemilihan diksinya, supaya pembaca itu bisa terbawa saat baca puisi yang aku tulis," tutur gadis yang pula gemar memasak ini. Setiap tantangan pasti ada jalan untuk melewatinya, begitu pula dengan Sasti. Tantangan yang dihadapi justru membuatnya menjadi penulis yang lebih baik lagi. "Dari sana aku bisa tahu lebih banyak kosa kata yang bisa aku jadiin bekal untuk nulis lagi nantinya," ucap Sasti.

 

Sebetulnya, dulu ketika masih duduk di bangku SMP. Sasti sempat mengunggah hasil tulisannya di salah satu aplikasi buku digital. “Memang pembacanya masih sedikit tapi ada aja yang baca dan ninggalin komentar positif. Di sana rasanya aku seneng banget," ungkap putri dari pasangan I Made Panca Dwipa dan Ni Wayan Ariawati ini.

 

Maka ketika buku Aku dan Malaikat berada di genggaman. Tercetak, tersebar, dan dapat dibaca oleh siapa saja. Tentu ada pesta kembang api di hati Sasti. “Aku seneng banget, kaya mimpi yang selama ini aku harapin udah jadi kenyataan. Buat buku sendiri itu kaya gak mungkin banget, tapi akhirnya aku bisa mewujudkan semua itu." ungkap Sasti.

 

Puisi Sasti dahulunya hanya sebatas penjaga rahasia kecilnya. Namun kini, dapat dinikmati, dapat jadi pelipur lara bagi siapa pun itu. “Walaupun jadi simpanan pribadi. kalau memang udah waktunya untuk terbit, pasti akan ada jalannya," pesan Sasti berharap akan ada banyak rahasia-rahasia kecil remaja lainnya yang bermunculan. (nam)