I Nyoman Lanang Putra Pandu
Berkarya di Tengah Keterbatasan
Karya
Thailand Series 2, Kumpulan Karikatur : Polemik Negeri, Hari Ini Masih Ngebully? Nggak Jaman!, Konflik Nan Menggelitik, Pergolakan Sikap Kritis Remaja, Denpasar Kotaku
Bio Penulis
Sebagian orang mengatakan bahwa menjadi penulis adalah suatu hal yang sulit. Namun, berbeda dengan pemuda ini. Karena hal yang tak ia duga justru membawanya menjadi sosok penulis. Lantas, bagaimana kisah dibalik itu semua?
I Nyoman Lanang Putra Pandu merupakan salah satu penulis muda yang berasal dari Bali. Sudah beberapa tahun terakhir ini pria kelahhiran 9 Februari 2003 itu mewarnai hari-harinya dengan menulis. Hingga akhirnya, ia berhasil menerbitkan dua buah buku. Diantaranya sebuah buku penelitian berjudul Thailand Series 2 dan sebuah buku kumpulan karikatur berjudul Polemik Negeri.
Menjadi penulis merupakan suatu ketidaksengajaan yang terjadi dalam diri Lanang. “Sebenarnya aku menjadi penulis buku itu karena ga sengaja, dulu aku cukup sering nulis dan buat karikatur. Ternyata tulisan dan gambar-gambarku itu bisa dijadiin buku,” tutur Lanang. Motivasi dari kakak kelas juga mendukung dirinya untuk membuat lebih banyak karya. Pria bertubuh tinggi itu mengangap apapun yang dapat dilakukan orang lain, seharusnya dirinya pun dapat melakukan hal itu.
Dalam pembuatan karya-karyanya tersebut hal pertama yang Lanang lakukan adalah mengumpulkan materi yang pernah ia tulis sebelumnya lalu direvisi. Kemudian hasil revisi tersebut ia lay out hingga dapat dicetak. Namun, dibalik itu semua, pria berkulit putih itu kerap kesulitan untuk waktu antara jam belajar dan menyiapkan buku-buku yang harus diluncurkan, mulai dari editor, pembuat cover, layouter dan masih banyak lagi. Terlebih lagi, saat ini Lanang tengah mengemban bangku kelas XII SMA. Bukannya menyerah, hal ini justru dijadikan tantangan bagi Lanang untuk menyelesaikan semuanya tepat waktu. Ia juga memberi dorongan kepada tim buku lainnya dalam menyelesaikan karya-karyanya karena tanpa bantuan mereka, Lanang juga tidak dapat menerbitkan karya-karyanya.
Baginya, buku-buku tersebut merupakan sebuah prestasi. Ditambah lagi karyanya itu berhasil dibuatnya di tengah keterbatasan pandemi COVID-19. Ini juga merupakan sebuah bukti nyata bahwa apapun keadaannya pasti ada celah untuk berkarya. (ksp)