Putu Ayu Dayita Mahashanti
Bukan Asal Coba-Coba
Karya
Thailan Series 2
Bio Penulis
Kalau dalam taman bunga, Dayita boleh jadi bukan mawar merah yang menyala. Paling mencolok dan meresap perhatian. Gadis mungil itu lebih cocok jadi angin. Diam-diam, tenang, namun tekun membuat bunga bermekaran.
“Awalnya itu aku mulai nulis pas SMP, itu pun coba-coba untuk nulis. Tapi lama-lama malah keterusan sampai sekarang,” kenang Putu Ayu Dayita Mahashanti kala dihubungi via daring oleh Tim Madyapadma pada Rabu (16/12). Dulunya gadis yang kerap disapa Dayita ini, hanya salah satu dari ratusan peserta MOS (Masa Orientasi Siswa) di SMPN 9 Denpasar. Pemilihan satu ekstrakurikuler pun diwajibkan bagi setiap siswanya. Waktu masih Sekolah Dasar, Dayita pernah mencoba menari. Namun gadis kelahiran Denpasar, 21 Mei 2003 itu tak betah meliuk-liukan badannya. Kalau menyanyi, “Aku suka nyanyi, tapi sadar diri nggak ada bakat,” canda gadis berambut sebahu itu.
Alhasil, dirinya sempat kebingungan menjatuhkan pilihan. Namun, ada satu ekstrakurikuler yang berhasil menarik perhatiannya. Ialah ekstrakurikuler yang bergerak dalam bidang jurnalistik. “Denger namanya itu langsung tertarik aja. Jadi mikir pengen nyoba,” aku gadis asal Singaraja itu. Walaupun buta sepenuhnya dalam dunia jurnalistik, perlahan Dayita mulai mengenal dan belajar hal-hal baru di dalamnya. Mulai mencicipi satu demi satu jenis tulisan. Bak belati yang kian tajam ketika diasah, begitu pula dengan kemampuannya yang kian meningkat.
Ketika bergabung dengan Madyapadma Journalistic Park di masa SMA, Dayita lagi-lagi mendapat tawaran mencoba hal baru. “Sebelumnya aku mikir nulis buku itu susah, ribet,” kata Dayita. Kendati demikian, gadis penggemar kuliner pedas itu tetap melaju. Berani mencoba menulis sebuah buku. Pada tahun 2019 lalu, hasil coba-coba berhadiahnya itu pun terbukti menghasilkan sebuah karya. "Semuanya itu berawal waktu aku ikut pelatihan penelitian, dari sana temanku itu tercetus ide untuk buat casing anti radiasi dan akhirnya kita bawa pulang medali perak,” ucap gadis berkacamata itu. Tapi tak sampai sebatas memboyong pulang medali saja. Hasil kegigihan Dayita dan rekan-rekannya itu pula sukses melahirkan sebuah buku riset berjudul Thailand Series 2.
Satu buku pun tak cukup. Di tengah pandemi Covid-19, Dayita kembali berani mengambil kesempatan. "Aku kebagian topik esai Pembelajaran Berbasis Riset (PBR) dan waktu itu aku bener-bener buta tentang apa itu PBR. Sampai aku harus buka jurnal satu-satu dan coba nyari pakai keyword yang beda-beda. Tapi waktu itu aku kira cuma bakal jadi esai aja, aku nggak nyangka malah bisa jadi satu buku lagi," tutur Dayita sambil tergelak. Pada akhirnya, buku kumpulan esai bertajuk Kegagalan Pendidikan Indonesia berhasil diterbitkannya. Dayita tak mengelak ada banyak kendala di tengah penulisan buku tersebut. Walau begitu, “Tidak sedikit pun aku berpikir untuk nyerah, tapi malah buat aku semakin semangat untuk nyelesain buku ini.”
Semenjak langkah pertama, Dayita memang hanya bermodal coba-coba belaka. Namun gadis yang mengidolakan Nadin Amizah itu, juga mencampurkan ketekunan dan keberanian di dalamnya. “Coba untuk memulainya dengan satu tulisan. Terkadang memang akan mengalami kegagalan, tapi kegagalan yang terbesar adalah saat kita tidak berani untuk mencoba," pesan Dayita dengan gaya santainya. (nam)