Foto Penulis

Ni Komang Yuko Utami

Berkarya Dibalik Layar

Karya

Budaya Bali Darurat Komersialisasi, PKB Seni Perutunjukan, Selamat Tinggal Nawanatya, Kampus Merdeka 'Membuka Makna'

Bio Penulis

Menghindari lomba yang bertabrakan langsung dengan tatapan mata penonton. Siapa sangka? hal itu justru mengantarkan Yuko Utami untuk mengembangkan kemampuan menulisnya. Dengan berkarya dibalik layar.

 

Tahun 2013 menjadi awal perjalanan bagi Ni Komang Yuko Utami dalam menulis. Sejak masih duduk di bangku Sekolah Dasar, Yuko, sapaan akrabnya, seringkali mengikuti lomba yang mesti berhadapan langsung dengan banyak pasang mata. Dari lomba bercerita Bahasa Bali, mekidung, hingga lomba pelajaran pun diikutinya. Namun, saat SMP, gadis kelahiran Denpasar itu menutup diri dari aktivitas perlombaan atau pengembangan diri yang berinteraksi langsung dengan penonton. "Aku dulu waktu SMP kelas 1 jadi agak pendiam" tutur Yuko. Semenjak itulah dara berzodiak Virgo itu mencari bidang lain yang mampu mengembangkan dirinya dibalik layar.

 

Gadis yang memiliki hobi membaca novel itu mulai mencoba menulis. "Dulu awalnya aku mulai nulis random, kaya buat sajak atau pantun iseng gitu, tertuang tiba-tiba kaya mencurahkan hatiku," terang gadis pecinta bakso tersebut. Semua ditulisnya hingga tak terasa sudah dua, tiga, empat halaman buku pun habis. Akhirnya Yuko pun merasa bahwa sangat disayangkan apabila ide yang ada tidak tertuangkan menjadi sebuah cerpen. "Waktu itu aku ketertarikannya di karya sastra cerpen waktu SMP kelas satu." aku Yuko. Hingga berujung cerpen karyanya diterbitkan di majalah sekolahnya sewaktu itu, SMPN 3 Denpasar.

 

Berangkat dari keinginannya tersebutlah Yuko mulai menulis beberapa buku bersama rekannya. Mahasiswi jurusan hukum itu sempat menulis buku kumpulan puisi ketika dirinya duduk di kelas 10. Tak hanya itu, buku kumpulan esai pun pernah digarapanya. Buku itu berjudul Budaya Bali Darurat Komersialisasi. "Buku itu merupakan kumpulan esai berisikan budaya Bali dan Bali itu sendiri sekaligus mengkritisinya," ujar gadis asal Karangasem itu. Langkahnya pun terus berlanjut, sampai pada 2018 Yuko juga menulis buku PKB Seni Pertunjukan. Buku bersampul hitam kemerahan dihiasi dengan sosok penari Baris itu berisi 30 hari tulisannya bersama rekannya selama berkelana di PKB ke 40. Selain itu dirinya juga sempat menulis sebuah buku berjudul Selamat Tinggal Nawanatya.

 

Dibalik karya-karyanya yang memukau, Yuko juga mengalami hambatan dalam menerbitkan tulisannya. Kendala yang besar baginya adalah manajemen waktu dan koordinasi. "Gimana caranya supaya bukunya tetep maksimal tapi tetep bisa jalan juga yang lain itu agak sulit." ujar gadis penyuka es jeruk itu. Menurutnya keseimbangan antara konseptor dan eksekutor juga penting. Mahasiswi Universitas Udayana itu mengaku tidak pernah merasa dibikin pusing sendiri sampai depresi "Justru lebih ke mempertanyakan aja sih, muncul keraguan aja dalam diri. Ini selesai nggak ya? Tapi paling kalo selesai ini prematur" candanya. Namun baginya kesempurnaan adalah soal keseimbangan, bukan dia sangat baik, bagus, atau cantik rupanya. Tetapi, dalam standar pribadi, Yuko menganggap jika karyanya masih belum sempurna dan perlu banyak perbaikan baik dari segi layout atau editingnya. Senantiasa terus menempa diri sambil tetap berkarya dibalik layar.

 

Hambatan yang datang tidak membuat Yuko gentar. Ia selalu fokus dengan solusi dari masalahnya. "Kalo disana buntu ya pasti ada celah, entah mudah atau sulit. Yang jelas kalo kita mau coba. Dari celah manapun pasti bakal kebukak nemu titik terang." Ungkap anak kedua dari 3 bersaudara tersebut. Yuko menyarankan untuk selalu membuat back up plan dengan membuat rencana dibalik rencana.

 

Mahasiswi semester tiga itu membeberken tips yang menurutnya bisa membantu seorang pemula dalam menulis. Menurut Yuko "yang paling penting adalah berani mencoba. Ada niat untuk nulis dan membagikan tulisan kita." Jangan menyimpan tulisan hanya untuk diri sendiri. Sebab jika kita membagikan tulisan itu rasanya akan lebih bermanfaat dibandingkan hanya disimpan sendiri. (mo)